Senin, 15 November 2010

Menggelar Asa dalam Karya Budaya


Tiga bulan sudah persiapan menuju hari itu berakhir
Menantikan enam hari yang sangat spektakuler
Menjemput permulaan,
Mengantarnya menuju akhir dengan kebahagiaan
Mencari pertemanan di sepanjang perlintasan
Hingga tersalin sebuah harapan
Memadu kasih bersama peluh dan asa
Berbagi keceriaan di setiap rasa
Meski tak sempat ku berkata
Tak juwa ku bersuara
Sekejap hening dan berpikir
Ternyata penyebabnya adalah kerikil
Terhempas badai sehingga menyemburkan serpihan
Menancap hingga ke kerongkongan
Ratusan jiwa menunggu enam hari
Bermodal keberanian dan keikhlasan
Untuk sebuah karya yang takkan pernah mati
Untuk sebuah harapan yang dinanti
Tuk juga menghidupkan karya budaya
Lantas apa yang akan tertoreh?
Sebuah kepuasan karena telah berhasil
Berhasil mengasuh karya budaya di jalur mahasiswa
Perlintasan yang penuh dengan makna
Akhir tanpa daya
Bagiku tak masalah
Mengingat ini adalah amanah
Segelintir orang-orang berbudaya
Yang memiliki impian luar biasa
Memasok target kepada mereka
Dengan segenggam benih bibit-bibit baru
Tertanam sampai merekah
Menjadi tunas-tunas yang indah
Aku, memimpin
Aku, menyentuh mereka
Dan aku, tersapa oleh mereka
Bersatu meretaskan perjuangan
Di medan yang bernama itu
Aku, diharapkan
Dan aku, diarahkan
Untuk sebuah tujuan
Mulia bukan arogan
Di enam hari itu aku tersentil
Merasakan pahit manisnya seorang pemimpin
Walau tak jarang menerima pukulan
Setidaknya aku tetap terjaga
Untuk menyelesaikannya dengan hati terbuka
Ya, itulah aku, sang pemimpin
Tak peduli apa yang dikatakan orang
Aku tetap melaksanakan
Meskipun bukan sang perancang
Tapi aku bisa melakukannya
Sebisa mungkin,
Sesadar mungkin,
Mengakhiri semuanya
Dan gaduh pun tak jadi masalah
Karena itu hanyalah sesaat
Dan aku tahu aku tak takut kalah
Karena di sini aku tak sendirian meresah
Dan selama enam hari itu pun aku merasa lelah
Tak kunjung dapat sedikit daya
Lelah tak berduga
Namun satu hal yang aku ingat
Aku ada di sini untuk mereka
Untuk sebuah maha karya

Jumat, 12 November 2010

Ketika Kamu tak Sepenuhnya Diharapkan

Ketika kamu tak sepenuhnya diharapkan
Apa yang membuat kamu menjadi tersungkur?
Apa yang membuat kamu menjadi pesimis?
Apa yang membuat kamu menjadi tidak hidup?
Apa yang membuat kamu menjadi tak berguna?
Apa yang membuat kamu menjadi tak berekspresif?
Apa yang membuat kamu menjadi tak berdaya?
Apa yang membuat kamu menjadi sensitif?
Apa yang membuat kamu menjadi tersinggung?
Apa yang membuat kamu menjadi emosi?

Jawablah dengan hati, tinggalkan keegoanmu sesaat
Pikirkan bahwa kamu adalah orang yang HEBAT
Yang bisa sepenuhnya diharapkan suatu saat

Apakah Kita Sama?

Jejak yang panjang membawaku keluar dari peraduan
Angin, dedaunan, serta rumput ilalang menjadi peneman di perlintasan jejak itu
Namun apa yang kudapat dari laju perlintasan tidaklah sama dengan apa yang kuharapkan
Membelok bak haluan kapal yang berlayar di tengah luasnya lautan
Lalu menyongsong fajar yang masih terlalu dingin

Pagi, aku tak dapat melihatmu
Mata ini serasa tertutupi
Padahal aku ingin kembali melintasi jejak itu
Melihat keadaan sekitar yang tak jauh berbeda

Aku ingin selalu kembali ke jejak itu
Sampai kita benar-benar saling mengenal
Mengenal perbedaan
Agar kau tak salah meramal

Lantas apa aku ini salah
Melintasi jejak yang dulu pernah kutemui
Berpeluh-peluh sampai aku terjerembab
Aku berani melangkah karena aku tahu pikiranku
Aku berani memilikinya karena aku mengenalnya

Ya, kita memang tak sama
Tapi cobalah kau pahami apa isi hati ini
Rindu akan sesuatu yang tak terobati
Melekatkan segores kenangan dalam sebuah memori

Minggu, 07 November 2010

Bergelung dengan Kata


Kata demi kata terlingkar dengan indah
Di atas balutan secarik kertas
Putih dan merekah,
Memantulkan cahaya yang panas
Silau, membutakan mata

Goresan tinta hitam pekat
Melesir bak sebuah permainan pedang
Mengiris kata dalam gelungan
Membentuk sebuah rangkaian
                             
Lama rasanya tak bermain dengan kata
Lidah ini pun pahit tak berucap
Mengusik rasa
Maniskah?
Tidak, ini bukan hanya lisan!
Tapi juga tulisan

Menyortir barisan makna
Tersusun menyerupai lingkaran pelangi
Meski tak semua warna ada di sana
Tapi ia telah bergelung
Dan membentuk sebuah gelungan
Melingkar, bersatu dengan makna
Yang bernama
Gelungan Kata

Betapa indahnya
Bisa bermain
Dalam gelungan kata
Peroleh banyak makna
Karena kata
Bukan sekadar tulisan
Melainkan sebuah imajinasi
Menembus cakrawala
Hanya dengan satu kedipan
Itulah dia, sang wakil dunia

Jumat, 05 November 2010

Andai Ku Bisa Bermain dengan Waktu


Hidup adalah pilihan

Sobatku hari, kau masih terlalu muda untuk mengatur jam yang bergulir
Usahamu mengatur detik dan menit sungguh sebuah apresiasi yang kian menipis
Entah kenapa, aku jadi merasa tidak berarti di sini
Tidak berarti karena melupakanmu,
melewatimu tanpa merasa kau benar-benar ada

Sobatku hari, andai saja aku bisa mengulangmu
Akan kukejar dirimu tuk bermain bersamaku
Takkan ku sia-siakan, walau hanya sedetik di mata

Sobatku hari, ajaklah aku menembus sang waktu
Aku ingin kembali ke masa lau
Kembali ke aku yang dulu
Memperbaiki semua kesalahan-kesalahanku

Karena aku ingin menentukan tujuan
Meski sempat terikat sebuah pilihan

Rabu, 03 November 2010

Puisi “Apa Guna?” (Seorang Mahasiswa)

Andi J. Satya Wicaksana
(sebuah puisi lama)

Mahasiswa, begitulah panggilannya
Sarjana, itulah gelarnya
Pintar, itu memang wajar
Prestasi, bisa karena belajar

Tapi, apa benar?
Semua dilakukan dengan bersih, juga sadar?

Punya ilmu setinggi langit
Kalau tidak diamalkan, “apa guna?”

Nilai UAS seluas daratan
Kalau tidak disyukuri, “apa guna?”

Punya IPK sedalam lautan
Kalau tidak dimanfaatkan, “apa guna?”

Peroleh SKS > 19 dalam satu semester
Kalau hanya mementingkan diri sendiri, “apa guna?”

Ada teman yang butuh untuk diajar
Kalau selalu melihat gender, “apa guna?”

Pandai memahami sesuatu
Kalau tidak pandai menganalisa, “apa guna?”

Antusias terhadap negara lain
Kalau tidak kritis terhadap negara sendiri, “apa guna?”

Selalu membuat keputusan (di kelas)
Kalau tidak memperhatikan kaum minoritas, “apa guna?”

Berpikir bahwa dirinya “ekslusif”
Kalau selalu merendahkan teman lain, “apa guna?”

Bercita-cita sampai ke ujung dunia
Kalau tidak berusaha melakukan, “apa guna?”

Mengaku bahwa dirinya MAHA
Kalau terus mengecilkan orang, “apa guna?”

Maju berinisiatif menjadi pemimpin
Kalau hanya menumpang jabatan, “apa guna?”

Beribu-ribu kata yang tertulis
Kalau tidak dirasakan, “apa guna?”

Kawan…

Ego pun bisa merasa lelah
Tidak ingin dipaksa,
Juga tidak ingin dimanja
Dan engkau pun harus mengalah

Teman…

Belajarlah kembali kepada alam
Bergurulah lagi kepada hewan
Karena merekalah yang mengajarkan
Akan pentingnya arti sebuah kesederhanaan,
Dan kebersamaan

Depok, 3 Januari 2010

Perjalanan Baru Saja Dimulai

Ayah, ibu, hari ini aku bersyukur dapat menghirup udara segar yang menyelinap masuk melalui ventilasi jendela kamarku. Sebuah 'ruang rahasia' yang menjadi tempatku untuk terus berkarya. Aku juga bersyukur kepada Tuhan YME karena aku telah diizinkan untuk dapat kembali menulis  sebuah karya dengan segala kemampuanku, meski raga ini terbalut oleh beban. Beban yang sangat menahanku, mengikatku seperti ini. 
Ketika itu, aku menjadi tidak "hidup", kosong, tanpa orientasi akan hidup di masa depan.  Selama itu pun aku bak orang payah yang hanya termangu dalam sebuah 'ruang rahasia', tak lagi handal memainkan jemari yang  dulu lincah yang digerakkan oleh otak kananku. Aku sangat heran melihat orang-orang di dekatku bisa terus berdiri. Sementara aku? Aku ini apa? Aku adalah orang yang bisanya hanya mengeluh, mengeluh, dan mengeluh, tanpa ada kesadaran untuk bangkit walaupun sekadar 'duduk'. Hahhh... helaan napas ini sungguh berat. Menarikku untuk termangu lagi. Ahh, penyesalan yang berlarut-larut tak akan berguna sobat.
Aku tak sendirian untungnya. Aku memiliki banyak penyemangat dalam hidupku yang datang dari luar sana.  Keluarga maupun teman-teman adalah bukti konkrit bahwa aku ada untuk mereka, juga sebaliknya. Aku pun memilliki mereka dengan tulus, seperti seorang sahabat yang menyayangi sahabatnya, dan seorang ayah yang menyayangi anaknya.
Ya, akhirnya, aku pun menyadari bahwa menit-menit menuju perjalanan ini baru saja dimulai. Perjalanan panjang dan curam yang menggerakkanku untuk terus mendakinya. Dan aku tidak mau menghilangkan jejak kakiku di jalan ini. Setidaknya, itulah satu pesan yang aku punya untuk memotivasi diriku sendiri. Mari kita bermain dengan kata!

Ruang rahasia, 3 November 2010