Tiga bulan sudah persiapan menuju hari itu berakhir
Menantikan enam hari yang sangat spektakuler
Menjemput permulaan,
Mengantarnya menuju akhir dengan kebahagiaan
Mencari pertemanan di sepanjang perlintasan
Hingga tersalin sebuah harapan
Memadu kasih bersama peluh dan asa
Berbagi keceriaan di setiap rasa
Meski tak sempat ku berkata
Tak juwa ku bersuara
Sekejap hening dan berpikir
Ternyata penyebabnya adalah kerikil
Terhempas badai sehingga menyemburkan serpihan
Menancap hingga ke kerongkongan
Ratusan jiwa menunggu enam hari
Bermodal keberanian dan keikhlasan
Untuk sebuah karya yang takkan pernah mati
Untuk sebuah harapan yang dinanti
Tuk juga menghidupkan karya budaya
Lantas apa yang akan tertoreh?
Sebuah kepuasan karena telah berhasil
Berhasil mengasuh karya budaya di jalur mahasiswa
Perlintasan yang penuh dengan makna
Akhir tanpa daya
Bagiku tak masalah
Mengingat ini adalah amanah
Segelintir orang-orang berbudaya
Yang memiliki impian luar biasa
Memasok target kepada mereka
Dengan segenggam benih bibit-bibit baru
Tertanam sampai merekah
Menjadi tunas-tunas yang indah
Aku, memimpin
Aku, menyentuh mereka
Dan aku, tersapa oleh mereka
Bersatu meretaskan perjuangan
Di medan yang bernama itu
Aku, diharapkan
Dan aku, diarahkan
Untuk sebuah tujuan
Mulia bukan arogan
Di enam hari itu aku tersentil
Merasakan pahit manisnya seorang pemimpin
Walau tak jarang menerima pukulan
Setidaknya aku tetap terjaga
Untuk menyelesaikannya dengan hati terbuka
Ya, itulah aku, sang pemimpin
Tak peduli apa yang dikatakan orang
Aku tetap melaksanakan
Meskipun bukan sang perancang
Tapi aku bisa melakukannya
Sebisa mungkin,
Sesadar mungkin,
Mengakhiri semuanya
Dan gaduh pun tak jadi masalah
Karena itu hanyalah sesaat
Dan aku tahu aku tak takut kalah
Karena di sini aku tak sendirian meresah
Dan selama enam hari itu pun aku merasa lelah
Tak kunjung dapat sedikit daya
Lelah tak berduga
Namun satu hal yang aku ingat
Aku ada di sini untuk mereka
Untuk sebuah maha karya

